Friday, February 3, 2012

Dinamika Hukum di Era Reformasi

Pada saat ini berbagai kenyataan menunjukkan bahwa ketidakmampuan hukum dalam menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan ketidakseimbangan pilar penyangga modernisme. Kenyataan ini terlihat pada pilar regulasi yang mengalami ketidakseimbangan pada prinsip negara dan prinsip pasar dibandingkan dengan prinsip komunitas, padahal seharusnya hal tersebut harus berimbang dan menunjukkan balance agar tidak terjadi ketimpangan dalam pelaksanaan atau penerapannya. Sebuah realita yang terjadi di Indonesia dimana prinsip negara yang di dalamnya terkandung kekuatan pemerintah terlalu dominan berkuasa, dan prinsip pasar yang didorong maju melalui konglomerasi yang didukung oleh birokrasi. Prinsip Negara dan prinsip pasar ini berpadu menjadi satu, sehingga mereka memiliki kekuasaan (dalam hal ini pengusa dan pejabat) juga terjun kedalam bisnis. Hal serupa mendominasi diberbagai belahan nusantara, dimana pejabat menjadi konglomerat karena bisnisnya dengan memanfaatkan birokrasi yang dipimpinnya. Dua prinsip itu maju kedepan, sedangkan prinsip komunitas ditinggalkan sehingga masyarakat sering menjadi korban dari kredo modernitas, masyarakat selalu dirugikan dan diperlakukan secara tidak adil. Aturan atas kepentingan masyarakat hanya sebuah tawaran yang polemik realitasnya dinikmati oleh dua kekuatan tersebut. (Rizal Muchtar) Menurut Sucipto Rahardjo ( kompas, 6 Juli 2002) Kegagalan hukum modern dalam menyelesaikan persoalan di Indonesia disebabkan karena hukum modern lebih memperhatikan perlindungan kemerdekaan individu daripada sebagai pengantar keadilan. Dengan demikian, Maka tak heran apabila pada hukum yang diutamakan struktur yang jelas, prosedural dan rigid. Ciri dari instrumen hukum modern ini yaitu penggunaannya dengan sengaja untuk mengejar tujuan-tujuan atau untuk mengantarkan keputusan-keputusan politik, sosial dan ekonomi yang diambil oleh Negara.

Wednesday, February 4, 2009

TEGUHNYA KESABARAN SANG IBU

Tiada satu orangpun yang menginginkan penderitaan, kesengsaraan dan ketidak mampuan serta ketidakcukupan dalam hidup dan kehidupan ini. Namun hal ini ternyata kadang selalu ada pada sebagian manusia yang ada disekeliling kita. Penyebabnya bisa terjadi karena banyak factor, apakah karena pekerjaan yang kurang memadai sehingga pendapatanya juga kurang memadai untuk menghidupi rumahtangga atau pribadinya, atau karena factor lainnya seperti PHK, perceraian, dan lain sebagainya.

Salah satu dari kenyataan di atas terjadi pada seorang janda 50 an yang menghidupkan anaknya sendiri tanpa bantuan suami karena terjadinya perceraian puluhan tahun yang lalu. Ia hidup dengan 7 orang anak yang ketika terjadinya perceraian tersebut anak paling tuanya berumur 15 tahun.

Dapat kita bayangkan, seorang janda yang memberikan makan, pakaian dan sekolah anak dengan pekerjaan rumah tangga. Ia berusaha untuk tetap menyekolahkan anaknya. Ia berusaha untuk tetap bertahan hidup dengan ketidak cukupan, dengan kegelisahan, dan penderitaan.

Dengan bermodal keahlian yang boleh dikatakan pas-pasan untuk membuat gorengan pisang, bakwan dan kue-kue goreng lainnya, ia tertatih meniti kehidupannya tanpa harus meminta dan tanpa harus mengorbankan sekolah anak-anaknya, walau itu sangat berat.

Dapat kita bayangkan, setiap pagi ia harus membuat gorengan, dari malam ia meracit dan menyediakan bahan gorengan bersama anak-anaknya, semuanya ikut bekerja tanpa pilih tua muda, jam 3 pagi ia menggoreng sampai kadang selesai jam 5-6 pagi dan setelah itu jam 6 pagi beberapa orang anaknya menjajakan gorengan tersebut kesekeliling komplek dimana ia berada, bahkan sampai pasar atau lokasi yang cukup jauh dari rumahnya.

Kadang satu hari ia mendapatkan hasil dagangan anak-anaknya hanya Rp. 20.000, dan kadang Rp. 50.000 atau lebih,,,, namun kadang ia juga tidak mendapatkan hasil sama sekali karena akibat hujan dan lain sebagainya. Suatu kenyataan yang boleh dikatakan sangat pahit untuk hidup dizaman ini. Dimana semua harga barang melonjak tinggi, semua kebutuhan hidup dibayar dengan uang yang mahal dan bahkan biaya pendidikan yang boleh dikatakan tidak cukup rendah.

Padahal ia haha untuk tetap taat menjalankan syariat agamanya yakni agama Islam. Karena katanya dengan kepercayaannya inilah ia mampu bertahan, ia yakin bahwa tuhan akan berlaku seadil-adilnya. Walau kadang kami harus menyediakan makanan dan ongkos sekolah anak-anaknya setiap hari, menyediakan bayaran sewa rumah setiap bulan dan kebutuhan lainnya. Kadang ia rela hanya makan gorengan yang tersisa dari penjualan keliling anak-anaknya. Namun ia selalu berusaha untuk tetap tabah. Ia selalu berusarus menderita namun kami tetap mementingkan nilai agama. Anak-anaknya setiap magrib sholat jamaah dirumah, mengaji bersama dan belajar bersama. Tidak boleh ada yang keluar hanya untuk main-main, karena hidup bagi mereka adalah perjuangan yang panjang (katanya). Bagi anak-anaknya, kenyataan ini merupakan suatu hal yang sudah mendarah daging, sehingga anak-anaknya dari usia yang paling kecil memiliki tanggung jawab dan pekerjaan yang sesuai dengan kesanggupannya. Anak-anaknya terlihat senang dan tabah menjalani kehidupan dengan serba kekurangan. Kadang juga mereka rela berjalan kaki dalam kota ini untuk pergi ke sekolah dengan jarak tempuh 5-10 kilo meter setiap hari karena tidak adanya biaya transportasi.

Hari ini, walau ia telah berhasil menyelesaikan studi anaknya di salah satu perguruan tinggi dan telah mendapatkan menantu yang bekerja di salah satu perusahaan terkenal di daerah ini dan boleh anggap sudah sangat mapan dalam segi ekonomi, namun ia tidak menggantungkan kehidupannya pada keberhasilan anaknya. Ia dan anak-anak lainnya tetap melakukan pekerjaannya seperti biasa. Hidup di rumah sewaan tipe 36 dengan satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Walau demikian ia senang, ia bangga, bahwa ia hari ini juga telah mampu membeli satu sepeda motor untuk mempermudah penjualan gorengan yang dijual oleh anak-anaknya, walaupun itu dengan cara kredit.

Di sisi lain, walau tidak terlalu banyak membantu, masyarakat di sekelilingnya seakan selalu memberikan motivasi kepadanya untuk tetap tabah walau itu kadang tanpa ucapan. Namun itu sudah cukup membantu kami, karena masyarakat tidak merasa terganggu dengan aktivitas kami yang kadang sampai tengah malam atau pagi hari.

Mudah-mudahan hidupku yang tidak terlalu panjang ini dapat memberikan kemudahan kepada anak-anakku dikemudian hari,, walau hari ini ditempuh dengan kesusahan dan penderitaan.