Tiada satu orangpun yang menginginkan penderitaan, kesengsaraan dan ketidak mampuan serta ketidakcukupan dalam hidup dan kehidupan ini. Namun hal ini ternyata kadang selalu ada pada sebagian manusia yang ada disekeliling kita. Penyebabnya bisa terjadi karena banyak factor, apakah karena pekerjaan yang kurang memadai sehingga pendapatanya juga kurang memadai untuk menghidupi rumahtangga atau pribadinya, atau karena factor lainnya seperti PHK, perceraian, dan lain sebagainya.
Salah satu dari kenyataan di atas terjadi pada seorang janda 50 an yang menghidupkan anaknya sendiri tanpa bantuan suami karena terjadinya perceraian puluhan tahun yang lalu. Ia hidup dengan 7 orang anak yang ketika terjadinya perceraian tersebut anak paling tuanya berumur 15 tahun.
Dapat kita bayangkan, seorang janda yang memberikan makan, pakaian dan sekolah anak dengan pekerjaan rumah tangga. Ia berusaha untuk tetap menyekolahkan anaknya. Ia berusaha untuk tetap bertahan hidup dengan ketidak cukupan, dengan kegelisahan, dan penderitaan.
Dengan bermodal keahlian yang boleh dikatakan pas-pasan untuk membuat gorengan pisang, bakwan dan kue-kue goreng lainnya, ia tertatih meniti kehidupannya tanpa harus meminta dan tanpa harus mengorbankan sekolah anak-anaknya, walau itu sangat berat.
Dapat kita bayangkan, setiap pagi ia harus membuat gorengan, dari malam ia meracit dan menyediakan bahan gorengan bersama anak-anaknya, semuanya ikut bekerja tanpa pilih tua muda, jam 3 pagi ia menggoreng sampai kadang selesai jam 5-6 pagi dan setelah itu jam 6 pagi beberapa orang anaknya menjajakan gorengan tersebut kesekeliling komplek dimana ia berada, bahkan sampai pasar atau lokasi yang cukup jauh dari rumahnya.
Kadang satu hari ia mendapatkan hasil dagangan anak-anaknya hanya Rp. 20.000, dan kadang Rp. 50.000 atau lebih,,,, namun kadang ia juga tidak mendapatkan hasil sama sekali karena akibat hujan dan lain sebagainya. Suatu kenyataan yang boleh dikatakan sangat pahit untuk hidup dizaman ini. Dimana semua harga barang melonjak tinggi, semua kebutuhan hidup dibayar dengan uang yang mahal dan bahkan biaya pendidikan yang boleh dikatakan tidak cukup rendah.
Padahal ia haha untuk tetap taat menjalankan syariat agamanya yakni agama Islam. Karena katanya dengan kepercayaannya inilah ia mampu bertahan, ia yakin bahwa tuhan akan berlaku seadil-adilnya. Walau kadang kami harus menyediakan makanan dan ongkos sekolah anak-anaknya setiap hari, menyediakan bayaran sewa rumah setiap bulan dan kebutuhan lainnya. Kadang ia rela hanya makan gorengan yang tersisa dari penjualan keliling anak-anaknya. Namun ia selalu berusaha untuk tetap tabah. Ia selalu berusarus menderita namun kami tetap mementingkan nilai agama. Anak-anaknya setiap magrib sholat jamaah dirumah, mengaji bersama dan belajar bersama. Tidak boleh ada yang keluar hanya untuk main-main, karena hidup bagi mereka adalah perjuangan yang panjang (katanya). Bagi anak-anaknya, kenyataan ini merupakan suatu hal yang sudah mendarah daging, sehingga anak-anaknya dari usia yang paling kecil memiliki tanggung jawab dan pekerjaan yang sesuai dengan kesanggupannya. Anak-anaknya terlihat senang dan tabah menjalani kehidupan dengan serba kekurangan. Kadang juga mereka rela berjalan kaki dalam kota ini untuk pergi ke sekolah dengan jarak tempuh 5-10 kilo meter setiap hari karena tidak adanya biaya transportasi.
Hari ini, walau ia telah berhasil menyelesaikan studi anaknya di salah satu perguruan tinggi dan telah mendapatkan menantu yang bekerja di salah satu perusahaan terkenal di daerah ini dan boleh anggap sudah sangat mapan dalam segi ekonomi, namun ia tidak menggantungkan kehidupannya pada keberhasilan anaknya. Ia dan anak-anak lainnya tetap melakukan pekerjaannya seperti biasa. Hidup di rumah sewaan tipe 36 dengan satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Walau demikian ia senang, ia bangga, bahwa ia hari ini juga telah mampu membeli satu sepeda motor untuk mempermudah penjualan gorengan yang dijual oleh anak-anaknya, walaupun itu dengan cara kredit.
Di sisi lain, walau tidak terlalu banyak membantu, masyarakat di sekelilingnya seakan selalu memberikan motivasi kepadanya untuk tetap tabah walau itu kadang tanpa ucapan. Namun itu sudah cukup membantu kami, karena masyarakat tidak merasa terganggu dengan aktivitas kami yang kadang sampai tengah malam atau pagi hari.
Mudah-mudahan hidupku yang tidak terlalu panjang ini dapat memberikan kemudahan kepada anak-anakku dikemudian hari,, walau hari ini ditempuh dengan kesusahan dan penderitaan.
